Pemancangan Bambu Runcing di Pusara KH. Muhyiddin di Hadiri Gubernur Jawa Barat

Pemancangan Bambu Runcing di Pusara KH. Muhyiddin di Hadiri Gubernur Jawa Barat

Views: 131
1 0
Read Time:2 Minute, 53 Second

Bogor.Infokriminal.com- Dua Hari yang lewat Upacara Pemancangan Bambu Runcing di Pusara KH. Muhyiddin di Pesantren Pagelaran, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Rabu (11/11/2020). KH. Muhyiddin yang dikenal dengan panggilan Mama Pagelaran, beliau selaku pendiri Pesantren Pagelaran dan salah satu pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Hadir dalam Upacara Pemancangan Bambu Runcing di Pusara KH. Muhyidin, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang Akbar di panggil Kang Emil, dalam kesempatanya Kang Emil mengatakan, Tiga nilai kehidupan yang selalu diajarkan oleh KH. Muhyiddin, bisa diterapkan di Masyarakat Jawa Barat. Keikhlasan. KH. Muhyiddin memiliki semangat untuk mengejar ridho Allah SWT.

Yang pertama adalah, segala sesuatu harus dengan Keikhlasan. Di mana ia hanya mengejar Ridho Allah bukan ingin namanya disebut, bukan ingin Jabatan, bukan ingin Kekuasaan, semata mata karena mencintai Negara. Itu adalah sebagian dari iman, sehingga dilandasi yang namanya keikhlasan, kata Kang Emil.

Nilai kedua adalah islah atau perdamaian. Menurut Kang Emil, KH. Muhyiddin selalu menekankan untuk mencari solusi saat perselisihan dan mencari kesamaan di antara perbedaan.

Banyak yang bertengkar karena perbedaan Politik di Media Sosial saat ini, Seharusnya Kita meneladani Amanat KH. Muhyiddin untuk mencari kesamaan dari perbedaan, mencari solusi dari perkara yang bisa diselesaikan dengan Musyawarah untuk mencapai Mufakat.

Lanjut Kang Emil Nilai Kehidupan terakhir yang diajarakan oleh KH. Muhyiddin adalah Kehati hatian. Dalam setiap langkah Kita, supaya tidak terjerumus dalam Kemudaratan, tapi selalu menjaga garis lurus Kemaslahatan.

Itulah Tiga Pesan yang kalau kita terjemahkan kepada Kita sebagai Generasi baru, mari bela Negara dengan Ikhlas. Jangan bertengkar dengan sesama Bangsa Sendiri. Mari cari Solusi, dan mari hati hati dalam setiap mengambil Tindakan, imbuhnya.

Kang Emil mengatakan lebih lanjut, Bahwa penghargaan berupa Pemancangan Bambu Runcing merupakan Inisiasi dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Dewan Harian Daerah Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Jabar, dan Pemuda Panca Marga (PPM).

Ini Inisiatif dari Institusi yang terkait dengan Kepahlawanan, antara lain, LVRI, DHD 45, dan PPM. Yang memberikan sebuah penghormatan dengan pemasangan bambu runcing di makam Almarhum KH. Muhyiddin sebagai simbol pengakuan terhadap Perjuangan dari Beliau selama memperjuangkan Kemerdekaan.

Sebagai Cucu dari KH. Muhyiddin, Kang Emil beserta Keluarga mengucapkan terima kasih atas Penghargaan tersebut. Menurutnya, banyak Ulama di Jawa Barat yang Berjuang dengan Keikhlasan. Akan tetapi, sebagai Generasi penerus, perlu memahami dan mengetahui, serta berkewajiban untuk menghormati dan memuliakan para Pejuang yang telah Memerdekakan Bangsa Indonesia dari Penjajah. Kami sangat Mengapresiasi, tapi Kami tidak mau Menginisiasi, karena nasihat dari Kakek Kami ini semuanya adalah Keikhlasan. Jadi kalau ada setitik Inisiatif dari Keluarga Kami akan merasa mengkhianati nilai yang disampaikan,” katanya.

Maka mau dikasih Pahlawan Nasional atau tidak, kalau iya Kami sangat bersyukur karena itu Haknya, kalaupun tidak kami tidak akan memaksa, karena harus datang dari Keikhlasan Negara Kepada Pejuangnya, imbuhnya.

Sementara itu Pemimpin Upacara sekaligus Ketua PPM Kota Bogor, Fajar Cahyana mengatakan, setelah Proklamasi Kemerdekaan KH. Muhyiddin membentuk Pasukan Hizbullah Pagelaran yang terdiri dari Santri, Alumni Santri, Jamaah Pengajian, dan Masyarakat Subang. Pasukan Hizbullah pun ikut terlibat dalam penyergapan konvoi Tentara NICA di Ciater bersama BKR kala itu.

Saya sangat bangga saat diminta langsung oleh PD. PPM Pusat Jabar untuk menjadi Perwira Upacara Pemancangan Bambu Runcing di Pusara KH. Muhyiddin, sosok KH. Muhyiddin selalu mengajak Rakyat untuk menantang Penjajahan Pemerintahan Kolonial Belanda, sehingga Mama Pagelaran ini sempat ditawan pada Tahun 1939

Tak hanya itu, lanjutnya, KH. Muhyiddin juga pernah memimpin pasukan yang lebih besar dan bermarkas di Ciwakari bersama BKR yang dipimpin Kolonel Sukanda Manggala Brata. Dalam salah satu pertempuran pun Putra dari KH. Muhyiddin gugur sebagai syuhada,” tutup Fajar Cahyana .

Red Infokriminal.com

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *